Kamis, 10 Februari 2011

Tips Menjadi Pribadi Produktif

Pernahkah Anda merasa pada saat bekerja jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 menjelang makan siang padahal Anda belum sempat menyelesaikan satu pekerjaan pun. Sibuk tapi rasanya pekerjaan tidak produktif? Satu hal yang harus disadari bahwa kesibukan tidak sama dengan menjadi produktif. Anda bisa saja menghabiskan sekian jam tanpa menghasilkan apa-apa. Sounds familiar? Ada beberapa prinsip yang sebaiknya Anda pertimbangkan dalam manajemen waktu sehingga Anda bisa bekerja efektif:

1. Menyusun Rencana

Ada ungkapan yang mengatakan ”If you fail to plan, you plan to fail”. Apabila Anda menjalani hari Anda tanpa ada gambaran apa yang harus dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya, Anda akan menghabiskan sebagian besar waktu Anda bertanya ”Apa yang harus saya kerjakan sekarang ya?”. Rencana memberikan peta apa yang ada dihadapan Anda hari itu. Alokasikan sedikit waktu untuk menyusun rencana sehingga Anda bisa mengelompokkan tugas-tugas yang sesuai dan memberikan prioritas serta waktu pengerjaannya.

Susunlah rencana di pagi hari atau hari sebelumnya. Anda bisa mulai dari catatan kecil saja atau bahkan menyusunnya di kepala untuk sekedar memberikan sinyal kepada otak mengenai apa yang harus Anda selesaikan hari itu.

Gunakan strategi yang cerdas dalam menyusun rencana. Kapan biasanya Anda merasa energi Anda tinggi, baik mental maupun fisik? Buat saya biasanya waktu antara jam 10:00 sampai 12:00 adalah saat dimana saya sedang ”on fire”. Disaat itu saya manfaatkan untuk memulai atau menyelesaikan tugas-tugas dengan prioritas tinggi. Waktu yang tersisa biasanya saya gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan dengan prioritas lebih rendah.

Rencana tidak bersifat kaku dan selalu terbuka untuk adjustment kapanpun. Jangan lupa untuk menyisipkan waktu untuk istirahat. Pada prinsipnya, Anda melakukan manajemen diri untuk Anda sendiri. Belajar mengelola waktu adalah latihan yang bagus untuk disiplin diri.

2. Fokus

Seringkali dalam bekerja kita membiarkan diri kita larut dalam beberapa pekerjaan sekaligus, istilahnya multi-tasking. Mungkin Anda mencoba menyenangkan boss Anda dengan mengiyakan semua permintaannya, tapi tanpa Anda sadari sebenarnya Anda justru membebani diri Anda dengan stress dan belum tentu juga apa yang Anda kerjaan akan berkualitas bagus.

Mengerjakan dua hal pada saat bersamaan bukan saja membagi perhatian Anda tetapi juga membuat Anda kurang fokus yang akibatnya butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Fokus dalam bekerja membuat kita lebih produktif dan mengurangi beban stress. Buat skala prioritas apabila Anda harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dalam kurun waktu yang bersamaan.


3. Hindari Interupsi

Dua hal dalam dunia kerja sekarang ini yang menjadi sering menjadi sumber interupsi adalah: telepon dan email. Tentu saja interupsi ini tidak bisa dihindari tetapi gunakan keahlian Anda dalam manajemen diri untuk menanganinya:
• Jawab telepon dari orang-orang yang berkepentingan saja pada saat Anda sedang fokus bekerja. Apabila Anda harus terpaksa menjawab, usahakan waktunya seminimal mungkin. Anda bisa menelepon balik ketika Anda sudah agak bebas.
• Cek email disaat-saat tertentu saja. Okay, ini tentunya sangat berat. Anda bisa coba. Apabila tidak mungkin, usahakan untuk tidak menjawab semua email tiap kali itu datang. Jawablah email yang berkaitan dengan pekerjaan Anda saat itu dan hindari multi-tasking.
Manajemen diri erat kaitannya dengan bagaimana Anda mengatur waktu Anda sehari-hari. Jangan biarkan faktor-faktor eksternal mengganggu produktifitas Anda. Apabila Anda produktif bukan hanya Anda sendiri yang senang tapi juga boss Anda. Hidup Anda lebih mudah dan stress pun berkurang...

Menghilangkan Rasa Cemas

Menghilangkan Rasa Cemas-Dale Carnegie
BAB 1 HIDUPLAH PADA HARI INI
Seorang dokter termasyhur dari Inggris yang bernama Sir William Osler, telah menemukan kesuksesannya berkat 21 kata yang telah dibacanya pada musim semi tahu 1871, saat itu ia sedang merasa cemas memikirkan masa depannya, kata itu telah membekas dalam sanubarinya, dan dia hidup dengan selalu mengingat kata-kata tersebut, sehingga membawa kesuksesan pada dirinya. Ia mengorganisir John Hopkins School of Medicine yang terkenal di dunia. Dua puluh satu kata dari Thomas Carlyle yang menolongnya menempuh kehidupan bebas dari perasaan cemas adalah : “Kepentingan utama kita bukanlah untuk melihat apa yang terletak samar-samar di kejauhan, tetapi untuk mengerjakan apa yang jelas berada di tangan.”

Maksud dari perkataan ini adalah bahwa kita harus hidup pada hari ini dengan baik, jangan mengingat masa lalu, dan jangan memikirkan masa depan. Karena jika kita selalu memikirkan masa depan kita yang taktahu akan seperti apa,maka perasaan cemas akan menyelimuti kita, dan setiap harinya akan membuat kita gelisah. Oleh karena itu, kerjakanlah apa yang berada di depan kita hari ini, apa yang kita pegang pada hari ini, dan masa depan yang indah akan mengalir dengan sendirinya. Tutuplah pintu baja untuk masa lalu dan yang akan dating dan hiduplah hari ini.

Refleksi:
Apabila Anda hendak menghindari diri dari rasa cemas, lakukanlah seperti yang disarankan Sir William Osler “ Hiduplah Hari Ini”. Jangan ragu-ragu akan hari esok. Hiduplah setiap hari sampai waktu tidur tiba.

BAB 2 FORMULA ISTIMEWA UNTUK MENGATASI KECEMASAN
Willis H. Carrier memberikan teknik yang digunakan untuk memecahkan rasa cemas. Sesuatu yang mudah saja. Semua orang dapat melakukannya. Teknik tersebut terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1. Menganalisa situasi yang sedang di hadapi dengan tanpa rasa takut dan dengan jujur serta membayangkan akibat apa yang paling buruk yang dapat menimpa kita karena kegagalan tersebut.
2. Setelah menggambarkan akibat yang paling buruk yang mungkin bias terjadi, teguhkan hati untuk berani menerimanya apabila memang harus terjadi. Dan itu akan membuat hati kita merasa tenang dan damai.
3. Dengan perasaan tenang kita dapat mengabdikan waktu dan energi kita untuk berusaha memperbaiki akibat paling buruk yang telah digambarkan oleh kita dan telah kita terima secara jiwani tersebut.
Itulah tekhnik yang dapat digunakan untuk menghilangkan rasa cemas. Inti nya kita harus berlapang dada dan ikhlas menerima apapun yang akan terjadi. Seandainya professor William James, Bapak dari ilmu psychology praktis masih hidup pada saat ini, maka ia akan membenarkan apa yang di catat dalam formula untuk menghadapi yang terburuk tersebut. Sebab ia pernah mengatakan : “Ikhlaslah…ikhlaslah…” katanya, sebab “menerima dengan ikhlas apa yang terjadi adalah langkah pertama untuk mengatasi pertanggungjawaban setiap kemalangan.”
Refleksi:
Bila suatu saat Kesulitan (dengan K besar ) datang, dan memojokkan Anda ke sudut yang pahit, cobalah gunakan formula magis dari Willis H.Carrier! Karena dengan begitu, rasa cemas dan takut yang sedang kita hadapi, akan hilang dengan sendirinya, karena adanya perasaan tenang dan damai dalam hati kita.
BAB 3 AKIBAT CEMAS PADA DIRI ANDA
Kecemasan menghantui sebagian besar manusia yang hidup di muka bumi ini. Grafik menunjukkan bahwa kematian karena bunuh diri semakin jauh meninggalkan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit-penyakit pembunuh yang lain seperti kanker, dan sebagainya. Mengapa? Jawabannya adalah : “Kecemasan!”
Jika hidup kita selalu diliputi dengan kecemasan, hati kita merasa resah dan gelisah, nafsu makan berkurang, pikiran kacau, dan itu membuat kita sangat tidak sehat. Oleh karena itu bebaskanlah diri kita dari rasa cemas yang diam-diam dapat membunuh kita. Dr. Alexis Carrel pernah berkata : “Pengusaha yang tidak tahu bagaimana melawan rasa cemas, akan mati muda.” Oleh karena itu, sadarkan diri sendiri akan harga yang terlalu tinggi yang harus kita bayar untuk rasa cemas yang akan merusak kesehatan kita. Ingatlah perkataan Dr. Alexis Carrel.
Refleksi:
Hilangkan rasa cemas dalam diri kita, karena rasa cemas tersebut akan membunuh kita perlahan-lahan tanpa kita sadari!
BAB 4 BAGAIMANA MENGANALISA DAN MEMECAHKAN PERSOALAN-PERSOALAN YANG MENCEMASKAN
Formula istimewa dari Willis Carrier yang telah di paparkan pada Bab II belum mampu mengatasi semua kecemasan. Kita harus memperlengkapi diri kita untuk menghadapi berbagai macam kecemasan yang berbeda-beda jenisnya, dengan memperoleh tiga dasar dari analisa persoalan. Ketiga langkah tersebut adalah :
1. Temukan faktanya
Mengapa begitu penting untuk menemukan fakta-faktanya? Sebab apabila kita tak dapat menemukan fakta-fakta itu tak mungkin kita dapat berusaha untuk mengatasi persoalan kita dengan baik. Tanpa fakta, apa yang bias kita lakukan hanyalah mengambang dalam keragu-raguan.
2. Analisa fakta itu
Setelah menemukan fakta-faktanya, analisa fakta itu, apa yang harus kita lakukan, dampak apa saja yang akan kita dapatkan, dan apa yang akan kita hasilkan.
3. Ambil keputusan, dan bertindaklah berdasarkan keputusan itu
Setelah menemukan faktanya, kemudian menganalisa fakta tersebut, segeralah ambil keputusan, dan bertindaklah berdasarkan keputusan itu, apapun keputusan kita, bertindaklah seperti itu!
William James pernah menyarankan agar sekali anda mengambil keputusan yang telah dipertimbangkan masak-masak lewat fakta-fakta yang ada, maka bertindaklah! Jangan menoleh ke belakang, jangan mulai ragu-ragu, khawatir atau meneliti kembali langkah-langkah anda. Maju terus dan hadapi persoalannya dengan tenang!
Refleksi:
Setiap orang memiliki persoalan yang berbeda-beda yang sangat mencemaskan hatinya, cara untuk menyelesaikan masalah tersebut dan menghilangkan rasa cemas tersebut yaitu dengan mengikuti ke 3 langkah di atas! Tulislah pertanyaan pada secarik kertas, dan jawab dengan jujur! Pertanyaannya itu misalnya dengan bertanya pada diri kita sendiri, apa yang saya cemaskan? Apa yang harus saya lakukan? Inilah yang akan saya kerjakan! Dan kapan saya akan mulai melakukannya?
BAB 5 MEMPERKECIL RASA CEMAS BAGI PARA USAHAWAN
Bila anda, atau partner usaha anda tergoda oleh perasaan khawatir akan persoalan yang di hadapi, buatlah pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
1. Apakah persoalannya?
2. Apa yang menjadi penyebab timbulnya persoalan itu?
3. Kemungkinan-kemungkinan apakah yang dapat digunakan untuk memecahkan persoalan tersebut?
4. Pemecahan bagaimana yang terbaik untuk mengatasi persoalan tersebut?
Lalu jawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan jujur, maka kita akan menemukan jalan untuk menyelesaikan persoalan tersebut, dan rasa cemas kita akan berkurang.
Refleksi:
Dengan menggunakan cara tersebut, setidaknya rasa cemas dalam diri kita akan berkurang karena kita tahu bagaimana cara menyelesaikan persoalan tersebut, dan kita juga akan tahu kemungkinan apa yang akan terjadi, dan dengan sekuat tenaga kita perbaiki kemungkinan buruk yang akan terjadi tersebut.
BAB 6 BAGAIMANA MENDESAK RASA CEMAS KELUAR DALAM JIWA ANDA
Ada cara yang paling ampuh untuk mendesak rasa cemas keluar dalam jiwa kita, yaitu dengan melakukan KESIBUKAN! Beberapa orang yang mengalami kesedihan akibat ditinggal seseorang yang dicintainya, ataupun karena kehilangan pekerjaanya akan selalu cemas setiap harinya. Karena dia selalu memikirkannya. Dan rasa cemas itu akan membuat kita sakit dan mati perlahan-lahan. Oleh karena itu lakukanlah kesibukan, sebab dengan melakukan kesibukan, kita akan melupakan kejadian itu. Pikirkan hal apapun!
Mengapa kesibukan dalam bekerja dapat menusir kecemasan dari dalam kita? Sebab begitulah hukumnya! Suatu hukum dasar yang telah di ketengahkan oleh alam dan hukum tersebut berbunyi : Adalah sama sekali tidak mungkin bagi otak manusia, betapa pandainya pun ia, untuk memikirkan lebih dari satu hal pada waktu yang bersamaan.
Oleh karena itu, untuk mematahkan kebiasaan bercemas diri, perhatikan kalimat dibawah ini :
“Sibuklah! Orang yang diserang rasa cemas harus menenggelamkan diri dalam kesibukan, agar tidak melaju ke dalam keputusasaan.”
Refleksi:
Dengan melakukan banyak kesibukan, kita akan mendesak rasa cemas keluar dalam diri kita dengan sendirinya. Karena setelah melakukan ini itu, tidak ada lagi waktu bagi kita untuk memikirkan kecemasan kita.

BAB 7 JANGAN BIARKAN KUMBANG MENYENGAT ANDA
Di lereng Long’s Peak di Colorado terdapat sisa-sisa sebuah pohon raksasa. Kata orang pohon itu sudah berdiri di sana sejak ratusan tahun yang silam. Dalam jangka waktu hidupnya yang panjang itu, pohon tersebut telah 14 kali disambar petir. Hujan salju dan badai tak terhitung lagi selama lebih kurang 4 abad lamanya. Tetapi pohon tersebut tetap berdiri dengan kokohnya. Sampai pada suatu saat datanglah sepasukan besar kumbang menyerangnya dan dalam waktu singkat tumbanglah raksasa hutan itu. Pasukan serangga tersebut memakan bagian dalam kulitnya dan dengan perlahan tetapi pasti menghancurkan inti kekuatannya dengan serangan yang kecil tetapi bertubi-tubi.
Apakah kita semua ini seperti pohon raksasa di hutan itu? Tidakkah kita menyadari bahwa walaupun kita telah berhasil menghindarkan hujan badai dan hantaman petir kehidupan tetapi kemudian membiarkan jantung kita dimakan sedikit demi sedikit oleh kumbang kecemasan yang begitu kecil? Kumbang kecil yang dapat dengan mudah kita remas di antara jari tangan kita?
Kumbang tersebut diibaratkan hal-hal kecil yang dapat mencemaskan kita. Untuk dapat menindas rasa cemas sebelum rasa cemas itu menindas kita, maka cobalah perhatikan kalimat di bawah ini :
Jangan biarkan diri kita disusahkan oleh hal-hal kecil yang seharusnya kita remehkan dan kita lupakan. Ingat, “Hidup ini terlalu singkat untuk mengurusi hal-hal kecil.”
Refleksi:
Masalah-masalah kecil sering datang dalam kehidupan kita, kadang kita selalu memikirkannya hingga membuat pikiran kita tidak tenang dan menjadi stress. Alangkah baiknya jika kita tidak menyia-nyiakan waktu kita yang berharga untuk memikirkan hal-hal kecil tersebut, karena sekali kumbang menyengat kita, maka kita akan jatuh seperti pohon.
BAB 8 HUKUM PERBANDINGAN UNTUK MENINDAS RASA CEMAS
Untuk menindas rasa cemas, kita pikirkan hokum perbandingnya. Marilah melihat catatan yang bersangkut paut dengan persoalan kita, lalu coba kita tanyakan pada diri kita sendiri : Menurut hokum perbandingan, apakah persoalan yang saya cemaskan itu ada kemungkinan untuk terjadi?”
Jika kita memikirkannya, maka perasaan kita akan menjadi tenang dan damai, karena toh setelah dipikirkan bahwa ternyata kecemasan kita kemungkinan tidak akan terjadi, maka kita akan tenang dan dapat melupakan rasa cemas tersebut.
Refleksi:
Setiap rasa cemas yang kita hadapi, pikirkan kemungkinan terjadinya berapa persen. Karena kadang kecemasan kita tersebut mungkin tidak akan pernah terjadi. Setelah memikirkannya hati kita akan menjadi tenang, dan rasa cemas itu akan hilang dengan sendirinya.
BAB 9 KALAU MEMANG HARUS TERJADI – TERJADILAH!
Ada sedikit nasehat dari seorang filosof yang sudah banyak kita kenal, yaitu William James, beliau berkata “Terimalah apa yang harus terjadi dengan rela. Kerelaan menerima apa yang telah terjadi adalah langkah pertama untuk mengatasi akibat dari ketidakberuntungn.”
Nasehat tersebut menganjurkan kita untuk jangan terlalu larut memikirkan sesuatu buruk yang telah terjadi pada diri kita, Karena yang sudah terjadi memang harus terjadi, kita tak dapat mengulangnya dan merubahnya. Karena itu semua telah menjadi nasib kita maka terimalah, katena kalau memang harus terjadi, maka terjadilah!

Refleksi:
Kadang kita selalu memikirkan kesedihan yang telah kita alami hingga membuat kita stress dan putus asa. Menyesalinya seumur hidup, dan tahukah anda bahwa hal tersebut adalah perbuatan bodoh yang hanya akan membunuh kita perlahan-lahan. Pikirkanlah bahwa hal yang telah terjadi memang harus terjadi, dan sudah merupakan nasib kita dari ALLAH SWT. Dan kita tak dapat melawan takdirNya. Dengan berpikiran seperti itu maka hati kita akan tenang, dan dengan sendirinya kita akan dapat melupakan masalah tersebut.

BAB 10 JANGAN MENGGERGAJI SERBUK GERGAJI
Serbuk gergaji diibaratkan adalah sesuatu yang telah terjadi, pikirkanlah bahwa kita tidak akan mungkin menggergaji serbuk gergaji, dalam kehidupan kita tidak mungkin mengulang sesuatu yang telah terjadi, pepatah mengatakan, “Jangan menyesali susu yang telah tumpah”. Untuk apa kita menyesali apa yang sudah terjadi dan begitu mencemaskannya? Dan apabila kalian mulai mencemaskan akan apa yang sudah lewat dan sudah terjadi, sebenarnya sama saja dengan kalian mencoba menggergaji serbuk gergaji!” Dan itu tidak akan mungkin pernah terjadi.

Refleksi:
Biarkan yang lalu habis terkubur, dan jangan mencoba menggergaji serbuk gergaji, karena tidak seorangpun yang dapat mengembalikan waktu yang telah berlalu. seperti halnya bubuk gergaji tidak pernah seorang pun dapat menggergajinya.
By.Ahmad Sudrajad

Dua Pendekatan Dalam Menyelesaikan Masalah

Dalam pengalaman saya bekerja dan berinteraksi dengan banyak orang, saya amati ada dua tipe orang dalam menghadapi masalah atau problem, baik di pekerjaan maupun kehidupan sosial. Dua tipe ini adalah reactive (bereaksi begitu masalah datang) dan receptive (mau menerima masalah).

Pendekatan Reactive

Mereka yang reactive biasanya melihat suatu masalah sebagai ancaman. Entah ancaman terhadap karirnya, bisnisnya, keluarganya, dan sebagainya. Dalam kelompok ini Anda mencari solusi terhadap masalah dengan menggunakan pendekatan logis dan tradisional. Ciri-cirinya:
• Begitu masalah datang Anda cenderung segera mencari cara apapun untuk mengatasinya.
• Masalah dilihat sebagai faktor penghambat perkembangan diri.
• Anda akan segera menyusun strategi untuk menghadapi masalah
• Karena masalah dilihat sebagai ancaman, dia akan mendominasi pikiran dan cenderung menyebabkan kecemasan dan stress.
Apabila Anda bekerja di perusahaan, barangkali Anda pernah diminta untuk memimpin suatu proyek dimana Anda bertanggung jawab untuk mencapai target tertentu. Disini Anda dihadapkan dengan situasi yang membutuhkan analisa, justifikasi, dan pemikiran logis dalan menghadapi tantangan atau masalah yang muncul. Anda akan berada dalam kondisi tertekan untuk memenuhi deadline. Bisa ditebak, Anda akan cenderung menggunakan pendekatan reaktif dalam menyelesaikan persoalan.

Pendekatan Receptive

Pendekatan ini biasanya dipraktekkan oleh mereka yang sudah menyadari bahwa masalah bukanlah ancaman tetapi justru konsekuensi yang timbul dari suatu kondisi yang kita ciptakan. Oleh karena itu kita mempunyai kekuatan untuk mengubah kondisi tersebut dari dalam diri sendiri. Anda mau menerima masalah dan pada saat yang sama membuat solusinya.Ciri-cirinya:

Ketika masalah datang, Anda mengenalinya dan menggunakan pendekatan:
• Masalah merupakan kebalikan dari solusi. Ketika masalah muncul, Anda percaya saat itu juga bahwa solusinya sudah ada.
• Anda fokus kepada solusi dari persoalan yang timbul, bukan pada penyebab dari masalah itu. Dengan demikian Anda mengambil alih kontrol dari dalam diri Anda sendiri, bukannya dikendalikan oleh keadaan di luar.
• Masalah merupakan kesempatan untuk pengembangan diri. Anda melihatnya sebagai peluang untuk meciptakan realitas positif dalam hidup Anda.

Mau menerima masalah bukan berarti berdiam diri. Anda tidak ”kebakaran jenggot” tetapi mengenali masalah itu dengan tenang dan membuat diri Anda responsif terhadap semua yang Anda perlukan untuk mengundang solusi.

Contoh yang paling sederhana adalah ketika pasangan yang Anda cintai (misalnya istri, suami, atau pacar) sedang ngambek karena masalah sepele. Dengan pendekatan reactive, Anda hanya akan memperburuk keadaan dengan bertanya-tanya kenapa dia harus ngambek, menganalisa penyebabnya dan merasa kondisi ini akan mengancam keharmonisan hubungan Anda dengannya. Bukannya solusi yang didapat tetapi justru kecemasan dan kekhawatiran.

Dengan pendekatan receptive, Anda menerima dan menyadari bahwa pasangan Anda sedang marah. Anda fokuskan energi Anda untuk menciptakan kasih sayang yang pada dasarnya merupakan lawan dari kemarahan. Anda tidak larut terbawa suasana – mencoba mencari jawaban dari analisa kenapa dia jadi marah – tetapi mengambil alih kendali dari dalam diri sendiri, tetap berpikir tenang, dan menunjukan sikap positif dalam perilaku Anda. Anda akan rasakan bahwa berada dalam situasi ini justru membuat diri Anda berkembang. Anda membuat kualitas positif dari diri Anda muncul ke permukaan dan sudah menjadi hukum alam dengan bersikap seperti ini pasangan Anda niscaya akan berubah dari marah menjadi cinta.

Pendekatan receptive ini bisa Anda praktekkan di kehidupan bisnis, rumah tangga, dan sosial. Intinya Anda membangun keyakinan bahwa masalah tidaklah nyata sehingga Anda tidak merasa terbebani. Latih diri Anda untuk tidak reaktif ketika suatu masalah muncul. Fokuskan diri Anda pada lawan dari masalah, yaitu solusi, untuk menemukan kendali dan bukannya larut dalam masalah itu.